1. Mengetahui risiko infeksi
Jika saat ini memiliki infeksi atau luka terbuka, maka sebaiknya menunda penindikan. Risiko infeksi lebih tinggi, terutama jika yang melakukan penindikan kurang terlatih dan bekerja di lingkungan yang tidak steril atau menggunakan peralatan yang tidak bersih atau jika luka tidak benar-benar sembuh.
2. Menyadari masalah medis
Jika memiliki masalah kesehatan, seperti diabetes tidak terkontrol atau kondisi lain yang melemahkan sistem kekebalan, maka peluang untuk terjadi infeksi lebih tinggi.
3. Faktor gaya hidup
Sebuah tindikan di hidung ketika berusia 20 tahun mungkin terlihat keren. Tetapi ketika telah berusia diatas 30 tahun atau setelah memasuki dunia kerja, tentunya hal tersebut tidak sesuai.
Jika berencana untuk berusaha menghilangkan bekas tindikan, hal tersebut dapat meningkatkan peluang terjadinya infeksi. Hal tersebut juga dapat memperpanjang waktu penyembuhan kulit yang baru ditindik. Lokasi tindikan pada daerah tubuh yang aktif, juga lebih rentan terjadi robekan.
4. Kenali kecenderungan penyembuhan
Beberapa orang mungkin rentan terhadap jaringan parut yang dapat diangkat, atau tebal, dan bentuk apa yang disebut keloid. Tindikan bukanlah ide yang baik untuk dilakukan orang yang memiliki kecenderungan mudah terjadi jaringan parut atau keloid.
Waktu penyembuhan bervariasi tergantung pada daerah yang ditindik.Daerah pusar, puting susu, dan alat kelamin adalah daerah yang paling lambat untuk proses penyembuhan.
5. Pertimbangkan anatomi
Tidak semua permukaan kulit dapat memiliki penindikan sesuai dengan yang diinginkan. Misalnya pusar dengan punggung, tentunya paling mudah untuk menusuk pusar. Lidah dengan frenulum pendek (lipatan di bagian bawah lidah), adalah bukan daerah yang baik untuk dilakukan tindikan.
6. Memilih penindik profesional terlatih
Tindikan tubuh yang paling sering dilakukan di tempat tato dan tindik. Sedangkan tindikan pada daun telinga dapat dilakukan di toko-toko perhiasan atau pusat layanan kesehatan.
"Penindik yang berkualitas memiliki pemahaman yang baik tentang fisiologi dan anatomi dari bagian tubuh yang akan ditindik. Para penindik juga harus menggunakan alat steril dan tindakan pencegahan untuk menangani perdarahan dan mengendalikan infeksi.," tulis para peneliti Northwestern.
7. Menceritakan riwayat kesehatan pada penindik
Penindik profesional harus memperoleh riwayat kesehatan dari orang yang akan menggunakan jasanya. Termasuk alergi, penyakit jantung, diabetes, dan asma. Sehingga risiko kesehatan dapat diprediksi. Untuk membatasi pendarahan, dianjurkan untuk menghindari aspirin selama seminggu.
Sebelum dilakukan penindikan biasanya dianjurkan mengonsumsi obat nonsteroidal anti inflammatory drugs (NSAID), seperti ibuprofen atau naproxen untuk setidaknya 1 hari sebelum proses penindikan dan selama 7 hari sesudahnya.
8. Pastikan bahan yang tepat digunakan
Cincin, pin, atau perhiasan bebas nikel untuk mengurangi risiko reaksi alergi dan infeksi. Perhiasan yang terlalu kecil atau tipis atau berkualitas rendah dapat berpindah dari penempatan awal, yang dikenal sebagai migrasi, atau ditolak oleh tubuh.
9. Ikuti petunjuk perawatan
Cari tahu berapa lama luka biasanya akan sembuh dan bagaimana untuk menjaga kebersihan luka. Mengetahui kemungkinan efek samping dari penindikan, seperti nyeri atau bengkak, dan apa yang harus dilakukan untuk meminimalkan efek samping tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar